BelajarInggris.Net 486x60

Jangan Lewatkan Peluang Emas Ini

Saturday, November 21, 2009

RUANG LINGKUP RISET KOMUNIKASI


Komunikasi disebut ilmu karena mempunyai beberapa unsur yang harus ada dalam ilmu, yaitu:
1) Ruang lingkup/objek: ada objek yang dijadikan kajian atau telaah. Ilmu Komunikasi mengkaji proses pertukaran pesan antar manusia.
2) Teori-teori: penjelasan yang logis dan empiris tentang objek yang dikaji.
3) Metodologi Riset: aturan-aturan dalam mengkaji objek.
4) Kritik: ilmu bersifat tentatif, artinya kebenaran ilmu tidak mutlak, bisa didebat.
5) Aplikasi: kajian-kajian ilmiah dan teoretis dapat diaplikasikan dalam praktik-praktik nyata di kehidupan.

Objek ilmu ada dua, objek material (subject matter) dan objek formal (focus of interest). Sebagai ilmu sosial, Ilmu Komunikasi mempunyai objek material yang sama dengan ilmu-ilmu sosial lainnya yaitu mengkaji perilaku manusia (kehidupan sosial). Tetapi untuk membedakannya, setiap ilmu mempunyai objek formalnya masing-masing. Jadi objek formal adalah ciri khas yang dimiliki setiap ilmu dan secara spesifik menjadi fokus kajiannya. Objek formal Ilmu munikasi adalah “sega/a produksi, proses, dan pengaruh dari sistem dan lambang melalui pengembangan teori-teori yang dapat diuji dan digeneralisasikan dengan tujuan menje/askan fenomena berkaitan dengan produksi, proses, dan pengaruh dan sistem dan lambang dalam konteks kehidupan manusia”.

Objek formal pada dasarnya adalah fenomena komunikasi dalam kehidupan kita, karena komunikasi merupakan proses pertukaran tanda dan lambang dalam kehidupan manusia. Proses pertukaran tanda dan lambang ini disebut pula sebagai proses pertukaran pesan, karena pesan merupakan seperangkat tanda dan lambang yang disusun sedemikian rupa sehingga mengandung makna (informasi) bagi orang lain. Jadi, ruang lingkup riset komunikasi adalah berkaitan dengan produksi serta proses pertukaran pesan dan pengaruhnya terhadap kehidupan manusia.
Proses pentransferan atau pertukaran pesan ini terjadi melalui komponen-komponen komunikasi. Pesan berpindah dari seorang komunikator (yang menyampaikan pesan), melalui media, menuju sasaran (komunikan). Setelah sampai pada sasaran dimungkinkan memunculkan efek-efek tertentu. Hal ini yang dijelaskan secara lebih empiris oleh Lasswell, yaitu: Who says what in which channel to whom with what effect. Dari sini dapat dijabarkan bahwa riset komunikasi mencakup:

a). Studi komunikator (who), yaitu studi mengenai komunikator sebagai individu maupun institusi. Contoh: riset mengenai kredibilitas Radio Suara Surabaya dalam menginformasikan berita kriminal.
b). Studi pesan (says what), yaitu studi mengenai isi pesan, analisis teks, semiotik, pesan verbal maupun nonverbal, copy-testing untuk iklan atau analisis program PR. Contoh: riset tentang penggunaan bahasa Suroboyoan dalam acara berita Pojok Kampung JTV.
c). Studi media (in which channel), yaitu studi mengenai medianya (salurannya). Contoh,studi tentang proses pembuatan berita di meja redaksi dan proses manajemen media.
d). Studi khalayak (to whom), yaitu studi mengenai khalayak atau komunikan. Contoh: riset tentang opini, profil, uses & graitfications, agenda setting maupun Focus group discussion (FGD)
e). Studi efek (with what effect), yaitu studi mengenai efek terpaan pesan. Efek adalah dam-pak dan terpaan pesan komunikasi. Contoh: riset mengenai efek terpaan iklan terhadap motif membeli produk dan efek dan program kampanye safety-riding Polda Jatim.


Studi-studi tersebut dapat diterapkan pada semua tingkatan atau konteks komunikasi, seperti komunikasi interpersonal, komunikasi kelompok, komunikasi organisasi maupun komunikasi massa. Masing-masing tingkatan komunikasi ini mempunyai bidang-bidang, seperti: pers (media massa), public relations, periklanan, komunikasi pemasaran, dan sebagainya. Contoh: Studi analisis isi berita Koran Memorandum adalah studi yang terjadi pada tingkatan komunikasi mass dan bidang pers. Studi tentang efektivitas sistem komunikasi internal PT Maju Makmur adalah riset komunikasi organisasi atau public relations, yang mencakup komunikasi interpersonal atau kelompok. Sering mahasiswa bingung menentukan masalah yang merupakan fenomena komunikasi. Coba bandingkan contoh masalah berikut ini:
a) Opini mahasiswa terhadap pemberitaan konflik Aceh di Majalah Tempo.
b) Korelasi antara terpaan pemberitaan konflik Aceh dengan opini mahasiswa terhadap konflik Aceh.
c) Opini mahasiswa terhadap konflik Aceh
d) Korelasi antara afiliasi politik mahasiswa dengan opini mahasiswa terhadap konflik Aceh.
Masalah (a) dan (b) adalah fenomena komunikasi. Alasannya karena mencakup in-teraksi antara mahasiswa sebagai khalayak dengan produksi, proses, dan pengaruh media, yaitu berita tentang konflik Aceh dan pengaruhnya terhadap khalayak. Berita adalah se-kumpulan tanda atau lambang yang disusun sedemikian rupa sehingga memimbulkan makna tertentu. Sedangkan (c) dan (d) lebih memfokuskan pada opini mahasiswa tentang suatu peristiwa sosial yang terjadi, yaitu konflik Aceh.
Persoalan mi memang sering ditemukan. Mengingat komunikasi adalah ilmu lintas bidang. Artinya, komunikasi bersinggungan dengan ilmu sosial lainnya, seperti sosiologi, psikologi, ilmu politik, lainya. Ilmu-ilmu tersebut mernpunyai objek material (pokok ba-hasan) yang sama, yaitu mengkaji perilaku manusia. Namun komunikasi lebih spesifik membahas proses transfer tanda dan lambang dengan segala pengaruhnya dalam kehidupan sosial. Perpaduan antara komunikasi dan ilmu-ilmu sosial lainnya memunculkan beberapa bidang kajian, antara lain sosiologi komunikasi, psikologi komunikasi, komunikasi politik, komunikasi internasional, dan sebagainya.
Tentang ruang lingkup komunikasi dapat dilihat pada gambar 3. Tanda garis yang menghubungkan individu-kolektivitas-media massa adalah proses pertukaran pesan. Namun, konteks komunikasi juga semakin lama semakin sulit dibatasi. Hal mi akibat pengaruh teknologi komunikasi baru. Misalnya, jika dulu prinsip interaktif dua arah hanya dikenal dalam konteks komunikasi interpersonal, sekarang pun komunikasi rnassa melakukannya. Tidak jarang kita lihat penonton TV langsung berinteraktif dengan penyiar. Kita pun sulit menentukan mana riset media massa dan mana riset public relations. Riset tracking media bukan hanya untuk menguji rubrik-rubrik surat kabar, tapi juga digunakan untuk mengetahui penilaian karyawan tentang buletin yang ditulis praktisi PR. Karena itu, diharapkan kita jangan terlalu kaku dalam membatasi bidan-bidang riset. Banyak ditemui, inahasiswa public relations hanya boleh membuat judul skripsi tentang public relations. Mahasiswa jumalistik harus meriset masalah-masalah jurnalistik dan media massa. Pertanyaannya adalah apa saja lingkup riset public relations? Apa saja lingkup riset jurnalistik itu? Apakah mahasiswa public relations tidak boleh inembuat skripsi tentang analisis isi dan mahasiswa jurnalistik tidak boleh membuat skripsi tentang copy testing? Pertanyaannya adalah apa batasan bidang public relations, jurnalistik, dan lainnya? Apakah masing-masing bidang itu bersifat terpisah secara jelas (mutually exclusive)? Bagi penulis, kita harus memberikan kebebasan bagi mahasiswa untuk melakukan riset, karena semuanya kembali kepada fokus atau sudut pandang periset. Misalnya, mahasiswa public relations bisa meeriset analisis isi opini pembaca berdasarkan sudut pandang bahwa seorang public relations harus mengukur bagaimana opini publik terhadap citra perusahaannya, meskipun opini tersebut disampaikan secara tertulis di media massa.

No comments:

Post a Comment