BelajarInggris.Net 486x60

Jangan Lewatkan Peluang Emas Ini

Thursday, August 30, 2012

Ekonomi Politik Komunikasi (Media Massa)

Apa yang saat ini sedang menjadi trend tontonan masyarakat kita layaknya media massa yang melakukan penetrasi sosial atas berbagai ragam dan isinya yang tidak lagi hanya terbatas salah satu ideologi saja di dalamnya semisal ekonomi dan politik seolah telah menjelma menjadi sebuah realitas sosial yang “wajib” ditonton pemisarnya.

Mosco mengatakan bahwa ekonomi politik media dalam pandangan yang sempit dapat diartikan sebagai kajian tentang hubungan sosial khususnya hubungan kekuasaan dalam bidang produksi, distribusi dan konsumsi sumber daya, termasuk sumber daya komunikasi. Sedangkan dalam konteks yang lebih luas, ekonomi politik media dapat diterjemahkan sebagai kajian tentang kontrol dan bagaimana manusia bertahan dalam kehidupan sosial. (Mosco, 1996:25-26)

Lebih jauh Mosco kemudian mengajukan 3 (tiga) konsep entri yang diajukan bagi penerapan teori ekonomi politik media dalam industri komunikasi, yakni komodifikasi (commodification), spasialisasi (spatialization) dan strukturisasi (structuration). Pertama, komodifikasi mengacu pada pemanfaatan barang dan jasa yang dilihat dari kegunaanya yang kemudian ditransformasikan menjadi komoditas yang dinilai dari maknanya di pasar. Bentuk komodifikasi dalam komunikasi sendiri pada dasarnya juga ada 3 (tiga) jenis yakni; komodifikasi intrinsink atau intrinsinc commodification, komodifikasi ekstrinsink atau extrinsinc commodification, serta komodifikasi sibernatik atau cybernetic commodification.

Varian Utama Ekonomi-Politik Media

Terkait dengan ini, McQuail (1994:57-61) menjelaskan bahwa perspektif ekonomi politik media menekankan kajianya pada struktur ekonomi media, bukan pada isi atau muatan ideologi media yang fokus utamanya adalah analisis empiris terhadap struktur dan mekanisme kerja media. Sementara Murdock dan Golding (1991:15-19) mengatakan bahwa dalam kajian studi ekonomi politik media ini pada dasarnya terdapat 2 (dua) varian utama yang biasa digunakan dalam penelitian, yakni pertama kajian ekonomi politik verikal (critical political economy) dan kedua adalah ekonomi politik liberal (liberal political economy)

Berbeda dengan ekonomi politik liberal yang merupakan lairan mainstream, ekonomi politik kritikal pada dasarnya bersifat holistik, kesejahrahan dan sangat peduli terhadap keseimbangan antara usaha yang sifatnya kapitalistik dengan intervensi publik. Selain itu, kajian dengan perspektif kritikal ini lebih dari sekedar persoalan efisiensi, namun juga mencakup wilayah keahlian, pemerataan dan public good.

Hal lain yang menjadi perbedaan dalam varian utama kritikal dan liberal yang perlu untuk dipahami adalah jika ekonomi politik liberal yang bersifat mainstream memandang ekonomi sebagai sesuatu yang terpisah dari domain khusus, tidak demikian dengan ekonomi politik kritikal yang melihat adanya keterkaitan antara lembaga ekonomi dan politik, sosial dan budaya. Di dalam industri seperti industri media massa (televisi), para peneliti aliran kritikal ini memberikan perhatian besar tentang dampak atau efek dari dinamika ekonomi atas jangkauan dan keragaman ekspresi budaya publik dan ketersediaannya bagi kelompok yang berbeda.

Di sisi lain, para penganut perspektif atau aliran ekonomi politik liberal pada dasarnya sangat dipengaruhi oleh pemikiran Adam Smith yang memfokuskan pertukaran di pasar, dimana konsumen atau khalayak media memiliki kesempatan berbagai komoditas yang ditawarkan media (televisi) atas dasar kegunaan dan kesenangan yang ditawarkan. Perbedaan lainnya sebagai mana yang diungkap oleh Murdock dan Golding (1991:15-19) adalah dengan menjelaskan bahwa jika fokus perhatian ekonomi politik liberal adalam tercapainya efisiensi, pertumbuhan ekonomi dan kesejahteraan individu, maka para penganut ekonomi politik kritikal memulai perhatiannya dari serangkaian hubungan sosial dan permainan kekuasaan, yaitu bagaimana penciptaan dan pengambilan makna terjadi pada setiap tingkat dalam hubungan sosial asimetris yang terstruktur.

Komodifikasi Isi Media

Komodifikasi intrinsink atau komodifikasi isi adalah proses perubahan pesan dari sekumpulan data ke dalam sistem makna dalam wujud produk yang dapat dipasarkan, seperti paket produk yang dipasarkan oleh media dengan cara pemuatan tulisan seorang penulis artikel lain dan iklan dalam suatu paket yang bisa di jual.

Sementara komodifikasi ekstrinsink atau komodifikasi khalayak adalah proses modifikasi peran pembaca oleh perusahaan media dan pengiklan dari fungsi awal sebagai konsumen pada media kepada konsumen khalayak yang bukan media, dimana perusahaan media memproduksi khalayak dan kemudian menyerahkannya pada pengiklan. Dengan kata lain, dalam kondisi ini terjadi kerjasama yang saling menguntungkan antara perusahaan media dengan pengiklan, dimana perusahaan media digunakan sebagai sarana untuk menarik khalayak yang akan dijual kepada pengiklan yang akan membayar ke perusahaan media tersebut. Terakhir, komodifikasi sibernetik pada dasarnya terkait dengan proses mengatasi kendali dan ruang

Kembali ke masalah komoditi intrinsnk dan ekstrinsink ini, Mosco juga menjelaskan bahwa komoditi intrinsink ini merupakan proses komodifikasi dimana khalayak dijadikan sebagai media untuk meningkatkan perusahaan media, bukan pesan atau khalayak. Sedangkan komoditi ekstrinsink merupakan proses komodifikasi yang menjangkau semua lembaga pendidikan informasi pemerintah, media dan budaya yang menjadi motivator, sehingga tidak semua orang dapat memiliki akses terhadap informasi tanpa mengeluarkan sejumlah uang.

Kedua, spasialisasi merupakan proses untuk mengatasi hambatan ruang dan waktu dalam kehidupan sosial oleh perusahaan media dalam bentuk perluasan usaha, semisal proses integrasi horizontal, vertikal dan internasionalisasi. Dalam konteks integrasi ini, Mosco menjelaskan bahwa integrasi horizontal terjadi ketika sebuah perusahaan yang ada dalam jalur media yang sama membeli sebagian besar saham pada media lain, yang tidak ada hubungan langsung dengan bisnis aslinya; atau ketika perusahaan mengambil alih sebagian besar saham dalam suatu perusahaan yang sama sekali tidak bergerak dalam bidang media. (Mosco, 1996:176)

Pada prakteknya, integrasi horizontal ini merupakan kepemilikan silan (cross-ownership) beberapa jenis media massa sekaligus seperti surat kabar, majalah, tabloid, radio,  tv oleh suatu group perusahaan media besar. Di Indonesia integrasi semacam ini dilakukan oleh Kompas Group (KKG), Tempo/Jawa Post Group, Sinar Kasih Group, Media Indonesia maupun Salim Group.

Sementara integrasi internasionalisasi atau globalisasi dipandang dari perspektif ekonomi adalah konglomerasi ruang bagi modal yang dilakukan oleh perusahaan transnasional dan negara, yang mengubah ruang melalui arus sumber daya dan komoditas termasuk komunikasi dan informasi. Hasilnya berupa produk transformasi literal dari peta wilayah komunikasi dan informasi yang mengaksentuasikan ruang tertentu dan hubungan antara ruang-ruang tersebut. Dalam prakteknya, poros New York-London-Tokyo merupakan peta yang menghubungkan komunikasi dan layanan informasi kepada lini kedua, yakni Frankurt, Paris, Los Angeles dan seterusnya.

Ketigas, strukturisasi merupakan proses penggambungan human agency (agensi manusia) dengan proses perubahan sosial ke dalam analisis struktur. Karakteristik penting dari teori strukturisasi pada dasarnya adalah kekuatan yang diberikan kepada perubahan sosial, yang menggambarkan bagaimana struktur diproduksi dan direproduksi oleh agen manusia yang bertindak medium struktur-struktur. Strukturisasi inilah yang menyeimbangkan kecenderungan dalam analisis ekonomi politik media guna menggambarkan struktur seperti lembaga bisnis dan pemerintahan dengan menunjukkan dan menggambarkan ide-ide agensi, hubungan sosial fundamental yang mengacu pada peran para individu sebagai aktor sosial yang perilakunya dibangun oleh matriks hubungan sosial dan positioning, termasuk kelas, ras dan gender. (Mosco, 1996:215)

Walau sumbangan terbesar pemikiran dari teori ekonomi politik media terhadap kajian komunikasi adalah analisis institusi media dan konteks medianya, konsep yang ditawarkan Mosco ini pada prinsipnya relecan dalam mengkaji keseluruhan kegiatan media dan merumuskan satu model yang holistik  dari keseluruhan siklus produksi sampai penerimaannya (termasuk konteksnya). Kajian tentang teori ekonomi politik media ini memang tidak menggunakan prinsip reduksionis dan hubungan sebab akibat yang sifatnya linier, namun cenderung kritis dalam menilai pengetahuan yang selalu dikaitkan dengan nilai-nilai partisipasi dan kesetaraan yang penekanannya lebih besar pada aspek proses dibanding dengan masalah institusinya.

DAFTAR PUSTAKA
§  McQuail, Denis. 1994. Mass Communication Theory (3rd Edition). California: Sage Publication. Ltd.
§  Mosco, Vincent. 1996. The Political Economy of Communication. London: Sage Publication. Ltd.

     Download File Doc disini

No comments:

Post a Comment