BelajarInggris.Net 486x60

Jangan Lewatkan Peluang Emas Ini

Saturday, August 25, 2012

Media Massa dan Realitas

Konstruktivisme memandang realitas sebagai sesuatu yang ada dalam beragam bentuk konstruksi mental yang didasarkan pada pengalaman sosial, bersikap lokal dan spesifik, serta tergantung pada pihak yang melakukannya. Jesse Delia dan koleganya dalam Theories of Human Communication (Littlejohn, 1995) menyatakan bahwa individu menginterpretasi dan bertindak menurut kategori-kategori yang terkonsep dalam pikirannya. Realitas tidak dipahami dalam bentuk aslinya, tetapi melewati proses penyaringan melalui perspektif seseorang dalam memandang sesuatu.
Doris Graber (Severin dan Tankard, 2005:95) mengadakan sebuah penelitian yang mengindikasikan bahwa seseorang menggunakan skema tertentu untuk memproses artikel berita dari surat kabar atau siaran radio. Dia menemukan bahwa seseorang memproses berita dari surat kabar dengan melakukan penyejajaran langsung berita surat kabar dengan skema yang memiliki keterkaitan dengan berita, seperti menyebut seorang tokoh politik yang baru muncul dengan veteran politik, seperti “Nixon baru”. Selain itu, individu juga memproses melalui inferensi dengan menilai sebuah peristiwa berdasarkan peristiwa lain yang terjadi sebelumnya, seperti menyatakan bahwa gencatan senjata di Libanon tidak akan berjalan mulus karena gencatan senjata di Irlandia Utara tidak bekerja dengan baik). Graber juga menemukan bahwa dalam memproses artikel berita surat kabar, seseorang cenderung melihat pada kesimpulan yang ditarik dari bukti, bukan pada bukti itu sendiri. Dalam memproses berita melalui skema merupakan cara yang efektif dalam menghadapi informasi yang berlebihan.
Dalam era modernisasi, media massa memegang peranan penting dalam menyampaikan dan menyebarkan informasi secara cepat. Denis McQuail (1987) mengemukakan lima fungsi utama media di masyarakat, yaitu:
  1. Informasi
Media menyediakan informasi tentang peristiwa dan kondisi yang ada di masyarakat dan dunia, menunjukkan hubungan kekuasaan, serta memudahkan inovasi, adaptasi, dan kemajuan.
  1. Korelasi
Media menjelaskan, menafsirkan, mengomentari makna suatu peristiwa dan informasi, sekaligus menentukan urutan prioritas dan memberikan status relatif.
  1. Kesinambungan
Media mengekspresikan budaya dominan, mengakui budaya khusus dan budaya baru, serta meningkatkan dan melestarikan nilai-nilai.
  1. Hiburan
Media menyediakan sarana hiburan, pengalih perhatian dan relaksasi, serta meredakan ketegangan sosial.
  1. Mobilisasi
Media mengkampanyekan tujuan masyarakat dalam segala bidang.

Kelima fungsi ini menyiratkan suatu kesan positif dari keberadaan media massa. Dalam kenyataannya, terdapat sisi-sisi negatif yang tersembunyi dari fungsi media tersebut, yaitu:
  1. Dalam memberikan informasi mengenai suatu peristiwa atau isu, kebebasan media massa ditentukan oleh kepemilikan media, situasi ekonomi media, undang-undang, serta segala kebijakan menyangkut industri yang berkaitan dengan media massa. Kuantitas dan kualitas informasi yang disediakan bergantung kepada siapa pemilik media, kondisi finansial atau pendanaan sebuah media, aturan-aturan dalam menyebarkan informasi, serta keadaan unsur-unsur penunjang media seperti distribusi dan bahan-bahan produksi media.
  2. Penafsiran atau interpretasi media atas suatu peristiwa atau isu dapat dipandang sebagai bentuk pengendalian masyarakat. Pendapat masyarakat diarahkan melalui pernyataan-pernyataan media yang sebenarnya telah dipengaruhi oleh aspek-aspek lain di luar kebebasan pers itu sendiri. Penting atau tidaknya sebuah informasi ditentukan pula oleh wewenang media dalam menentukan skala prioritas sebuah peristiwa atau isu yang akan diberitakan.
Untuk media cetak, khususnya surat kabar, sebuah kerangka tertentu digunakan dalam menyusun berita sebagai komoditasnya. Pamela J. Shoemaker dan Stephen Reese (1996) menyebutkan bahwa konstruksi berita pada dasarnya merupakan sebuah kesatuan informasi verbal dan visual yang didistribusikan secara kuantitatif dan kualitatif di dalam content media (dalam Jurnalisme Damai; Iswandi Syahputra, 2006:53). Sisi kuantitatif dapat dilihat melalui frekuensi kemunculan berita tersebut, jumlah istilah atau pemakaian istilah dalam berita, serta durasi berita tersebut. Sisi kualitatif dilihat dari persepsi khalayak terhadap berita. Namun secara umum, segi kualitatif ini biasanya memperhatikan unsur objektivitas (melihat realitas media dan realitas sosial) dan faktualitas (muatan kebenaran berdasarkan fakta relevan). 
 
Kedua unsur ini sering mendapat sorotan karena proses penyusunan berita itu sendiri menerima banyak pengaruh dari berbgai pihak. Pihak media memiliki ideologi yang ingin mereka refleksikan melalui berita-berita yang mereka sampaikan, yang ditunjukkan dalam cara penulisan berita, bentuk penceritaan suatu peristiwa, atau penentuan fakta mana yang harus ditekankan atau justru dihilangkan. Realitas yang dikonstruksikan oleh media sering kali diadopsi oleh masyarakat menjadi realitas sosial yang ada, sehingga unsur objektivitas sedikit dipertanyakan akibat ada unsur kepentingan.

DAFTAR PUSTAKA
Severin, Werner J. dan James W. Tankard Jr. Teori Komunikasi: Sejarah, Metode, dan Terapan di Dalam Media Massa. 2005. Jakarta: Prenada Media.
Syahputra, Iswandi. Jurnalisme Damai: Meretas Ideologi Peliputan di Area Konflik. 2006. Yogyakarta: Penerbit PIDEA (Kelompok Pilar Media).

Download File Doc disini

No comments:

Post a Comment